BAHASA AIRMATA
Oleh Dr. Alwi Syihab,
Phd.
Banyak cara untuk
menyampaikan pesan dan terdapat aneka ragam bahasa berkomunikasi, bahkan
berdiam seribu bahasa sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti
Maryam, ibu Nabi Isa AS. yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan
simbol untuk menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Terkadang aksi mogok makan
sebagai protes, Ummu Kaltsum, penyanyi tanah Mesir pernah mengalunkan suara
dari gubahan Ahmad Syaugi yang menggambarkan bahwa bahasa terkadang tidak
seampuh lirikan mata untuk mengekspresikan asmara. "Lumpuh ungkapan
bahasa, namun tatapan mata yang menyala lebih ampuh untuk menekspresikan
cintaku kepada kekasih", kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana
komunikasi, linangan airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.
Kita dapat bertanya
pada diri kita masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita
menangis. Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum
wanita. Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata. Dalam sirah (biografi
Nabi Muhammad SAW) diriwayatkan bahwa beliau mencucurkan air mata saat mencium
putranya Ibrahim, ketika menghembuskan nafas yang terakhir. Melihat air mata
nabi yang tak terbendung, Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata, ”Engkau menangis wahai Rasul”. Nabi menjawab, ”Ini adalah rahmat
Tuhan”, lalu beliau bersabda: "Airmata
berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali
yang diredhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan
ini".
Nabi Isa as pun
menangis. Menurut riwayat Perjanjian Baru (St. John), Mary dan Martha meminta
kedatangan Jesus untuk mengobati saudara mereka Lazarus yang telah meninggal.
Menurut St. John, perasaan Jesus sangat terganggu dan sedih sambil mencucurkan
airmata.
Pertama-tama kita
harus sadari bahwa menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai
sistem pembersih kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik
mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin
hanya manusia yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu
Jiwa mendeteksi bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil,
lebih sempurna keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah
makhluk yang peka dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia
takut, ia sedih ingin dikasihani, bahkan apabila bahagia.
Masih dalam lingkup
menangis, manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi
atau menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini
terkadang lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang
menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Menangis
bersumber spiritual manusia. Namun sayangnya manusia pada umumnya menggunakan
standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai
wajar menangis, bahkan dalam kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat
layak apabila ia mengucurkan airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak
lelaki atau pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan
airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita,
dikala ia menahan linangan airmata.
Kalau saja kita dapat
memahami bahasa tangis, pandangan sepihak atau standar ganda yang selama ini
membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk
mengoreksi kekeliruan tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis
yang sangat bervariasi.
Variasi
Tangis
Airmata dapat melaju
karena faktor fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang
mengandung bahan kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak
seimbang. Adapula airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang
indah atau yang buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui
linangan airmata. Lain lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi
sebagai terapi untuk mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun
menangis akibat tangisan orang banyak, misalnya tangisan saat tangisan saat
perkawinan, wisuda atau memasuki masa purnabhakti. Airmata ini pertanda
keakraban hubungan.
Airmata juga
melambangkan ekspresi rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti
bagi seseorang. Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan
Presiden Amerika, George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush,
demikian menurut berita CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali.
Dalam kebudayaan Yunani, Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi
jenazah masih berlaku sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata
mengekspresikan rasa penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan
putus-asa juga membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat
itu sebagai akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita
benci melihat tetesan airmata.
Dilain pihak, kita
sering menangis karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat
terbatas untuk menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak
pertama, keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang
ditimpa orang lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja
mengeluarkan uang untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film.
Imaginasi kita dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan
tersedu-sedu. Ada pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara
mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan
vonis/hukuman. Yang paling pandai menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan
mungkin juga wanita, demikian Joseph Kottle dalam bukunya The Language of
Tears.
Agama
dan Tangis
Air mata yang
tercurah akibat penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau
kekhawatiran akan nasib di hati kemudian, disamping kebahagiaan atas penemuan
dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan
bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (yang
menunjuk kepada kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya),
populer digunakan, kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti
"Penangis atau yang suka menangis". Kelompok ini yang dipelopori oleh
Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis
tersedu-sedut. Ketika surga disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap
dapat memasukinya, dan ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis
karena takut terjerumus kepadanya.
Pengalaman spiritual
seseorang khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk
sehingga airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall
(Dinding Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya
umat Kristen ketike melawat ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta
perjalanan spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana.
Tidak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar
Aswad di Ka'bah), dimana mereka meratap sambil mengenang kehidupan serta
perjalanan spiritual Jesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana.
Tidak ubahnya dengan umat Islam yang dibarengi cucuran airmata dan tangisan merupakan
hal biasa.
Belum lagi saat
beraudiensi di makam Rasulullah di Madinah sambil mengucapkan salam dan
penghargaan kepada Beliau, suara tangis terdengar walau dari kejauhan. Hal yang
sama dapat dijumpai dihadapan maqam Imam Husein di Karbala atau Cairo,
pengunjung bertangisan mengenang perjuangan beliau meletakkan keadilan walau
harus mengorbankan jiwanya.
Sungguh, bahasa
airmata secara jelas menyampaikan pesannya, "Ya Tuhan, aku datang memohon
ampunan dan mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti
jejak RasulMu".
Dalam Al-Qur'an kita
jumpai kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali.
Terkadang menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas
ancaman Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat
mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya'qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu' sebagai
manifestasi iman dan kehampiran kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Disamping
itu Al-Qur'an menggambarkan betapa sebagian umat Kristen mengucurkan airmata
saat mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Curahan airmata
dibarengi dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar
pula tangisan suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari
suatu peperangan dijalan Allah (9:92).
Mari kita merenung
bersama, apa yang menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika
sedih karena kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena
jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan
Tuhan, atau mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian.
Penulis adalah
Professor pada Hartford Seminary, Connecticut, USA